Mungkin
bagi para remaja sangat susah untuk mengatakan “Say NO TO Pacaran”, karena pikiran
mereka telah terlanjur diisi oleh paradigma yang ada di masyarakat tentang
pacaran itu sendiri adalah baik. Mereka para remaja dibiarkan oleh orang tuanya
untuk menjalin hubungan dengan lawan jenisnya dalam bingkai yang disebut dengan
pacaran. Ironisnya, ada orang tua yang merasa bangga jika anaknya telah memiliki
pacar. Dan bahkan, ada orang tua yang merasa terhina dan malu karena anaknya tak
kunjung mendapatkan pacar. Begitu juga dengan para remaja yang menjadi objek
dalam hal ini, mereka berlomba-lomba untuk menggaet gebetannya.(Insya Allah bahasa kerennya seperti itu)
Namun,
tidakkah kita berpikir apa yang sebenarnya kita cari dari hubungan yang
berbingkai PACARAN ??? ingatlah, nikmatnya pacaran itu tidak akan kita rasakan
sepenuhnya jika hubungan itu belum dibingkai dengan bingkai pernikahan. Pacaran
hanya memberikan kita menyicipi hal-hal yang tak seharusnya kita cicipi sebelum
kita dihalalkan dengan lawan jenis kita. kita hanya, gila dengan angan angan
seandainya ia menjadi istri atau menjadi suamiku kelak, atau bahakan ada yang
tidak sampai angannya kesana. Lalu, apakah tujuan kita berpacaran ??? kita
hanya menebar zina dengan pasangan kita, dengan berduaan, pegangan tangan
ataupun berlanjut pada hal-hal yang tak seharusnya kita lakukan. Mungkin alasannya
adalah kasih sayang,,,ingatlah, kasih sayang itu tersebar pada setiap sudut
penjuru dunia ini. Ketika kita menebarkan kasih sayang yang kita miliki pada dunia,
maka dunia akan mengembalikannya lebih dari apa yang kita beri. Subhanallah,,, kita
akan merasakan kasih sayang yang lebih banyak dari pada PACARAN! janganlah
habiskan waktumu di dunia ini hanya untuk mengetik sms “kamu lagi ngapain”
berkali-kali...apakah itu sangat penting ? atau, kamu lagi dimana? dengan siapa
? cukup! Jangan habiskan waktumu di dunia ini dengan hal yang sia-sia karena
waktu kita sungguh sangat sedikit di dunia ini.
Ingatlah bahwa,,,
jodoh kita tak akan lari. Dia tetap di sana mengerjakan aktivitasnya dan
menyiapkan dirinya untuk berjumpa dengan kita pada saat yang tepat, pada waktu
yang tepat dalam bingkai yang halal yaitu pernikahan. Maka, siapkanlah diri
kita untuk bersabar dan mensolehkan diri kita untuk menunggunya. Karena, tidak
ada satupun manusia yang menginginkan suami/istri yang buruk, bahkan seorang
preman besarpun menginginkan wanita soleha untuk menjadi istrinya. Maka, mari kita
memperbaiki diri kita untuk menjadi hamba Allah yang soleh dan soleha, karena
laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik-baik dan wanita yang baik-baik
itu untuk laki-laki yang baik pula.
Semoga
kita semua bisa melepaskan diri dari frame pacaran yang membelenggu paradigma
masyarakat kita menuju ridho Allah swt. Aamiin. . . (Tiperj_DF)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar